Istimewa

Catatan HS 3smh : Mensyukuri hal-hal kecil setiap hari

setiap hari-hari yang terasa biasa sebenarnya adalah hari yang istimewa

-bundo syafiq

Sharing dari mas aar sekeluarga selalu mencerahkan, mengajarkan kami untuk terbiasa mensyukuri hal-hal kecil dalam proses pengasuhan anak-anak.

Untuk keluarga kami, Kalau dilihat sepintas kondisi kami sekarang yang terkesan hanya saya yang merasa ruwet, kewalahan, ragu apakah perencanaan bisa terlaksana dg baik atau tidak, dst..

Belum lagi saya jadi merasa sekarang tekanannya beda lagi, “udah resmi HS lho, harus tanggung jawab,” 🙈. Tekanan dari diri sendiri 😁.

Setelah saya menggali kenapa perasaan2 spt di atas datang, ternyata jawabannya spt biasa :
🌱Ga dengar podcast rumah Inspirasi
🌱Ga mindful activities sama anak2
🌱Kurang dzikir.

Untunglah menjurnal masih jalan, jadi masih ada yg menjaga kewarasan.

Setelah diamati ternyata sebenarnya ada banyak Hal yang saya bisa syukuri sekarang, walau hari terasa berjalan biasa saja, tapi..

Alhamdulillah sejak resmi memilih Homeschooling, suami sekarang sudah mengambil peran lebih banyak dari masa “sebelum resmi HS”.

Peran-peran sebelumnya tetap jalan dan ditambah dengan berbagi sesi read aloud (sebelumnya saya terus yang read aloud selama weekday, suami saat weekend), berbagi tugas merapikan dokumentasi Homeschooling anak-anak dan beberapa tugas domestik.

Alhamdulillah, Kami juga sudah resmi ikut PKBM, jadinya ikut piwulang becik yang setelah kami pelajari memang paling sesuai dengan kebutuhan kami.

Untuk anak-anak, kondisi yg kami syukuri..
Syafiq 7 tahun, Alhamdulillah masih lanjut puasa full, padahal tahun lalu masih main-main puasanya. Kami memang tidak menanamkan pembiasaan, tapi kesadaran. Berpuasa krn kecintaan pada Allah. Tak ada keharusan harus puasa full, juga tak ada hadiah jika puasanya full.
Hanya memasak makanan kesukaannya untuk berbuka/ sahur saja sebagai penyemangat.

jika dia memamg tak sanggup kami mengijinkannya berbuka, hanya tetap memberi pertimbangan “apa ga sayang kalau hari ini batal” sambil memperlihatkan tracker puasanya.
Tapi Alhamdulillah, pas tidak sahur krn kesiangan kmrn, dia tetap bertekad puasa full, walau berkali-kali bilang pengen berbuka (dan saya persilahkan) tapi tetap puasa juga jadinya. Sholat tarawih juga padahal tidak kami wajibkan.

Sadied, 4 tahun, beberapa hari dia awal berpuasa setengah hari. Dg ketentuan spt syafiq, dilakukan krn cinta, tanpa paksaan, jika berbuka tak apa.

Beberapa hari ini ia puasa bersambung spt sharingnya mba @⁨Efa Refnita Rumah Inspirasi⁩ 😀
Pas jam sarapan atau jam makan siang sahur, lanjut puasa sampai magrib.

Demikian lah catatan syukur kami.

7 Tips Sederhana Menghadapi Tenggat Waktu Ala Emak Rempong

Setiap orang pasti punya tenggat waktu atas berbagai hal yang harus dikerjakan. Begitu pula saya yang sehari-hari berprofesi sebagai ibu rumah tangga purna waktu, saya juga mempunyai tenggat waktu beberapa pekerjaan yang harus dilakukan. 

Baik itu untuk urusan domestik rumah tangga, urusan pendidikan anak-anak (terutama karena kami homeschooling), urusan ibu-ibu dharma wanita di kantor suami, urusan komunitas, urusan konsistensi menulis, dan lain sebagainya. 

Kerepotan mengejar berbagai tenggat waktu sebagai  ibu rumah tangga purna waktu dengan anak dan balita yang belum mandiri, tanpa ART, tanpa jasa laundry, dan tanpa bantuan suami yang sibuk bekerja, membuat saya mau tidak mau harus mengatur strategi dan berkomitmen menjalaninya dengan disiplin. Walau pada kenyataannya saya sering kali harus lebih banyak berdamai. 

Setelah belajar dan “comot” ilmu sana sini, saya merumuskan hal-hal di bawah ini agar bisa bermain Kungfu alias menuntaskan segala tenggat waktu dengan elegan. Walau kadang ada juga masanya saya “jumpalitan” dan kewalahan. Tapi setidaknya dengan merencanakan dan menerapkan strategi dalam menghadapinya, otak dan hati saya jadi lebih tenang, terkelola, dan merasa “clean and clear”.

Hasilnya (jika tidak sedang khilaf.hehe) dalam keseharian saya jadi lebih terkelola, tetap waras, minim stress dan lebih mindful sehingga tidak mudah berubah menjadi Bundo T-rex bagi anak-anak. 

Ada yang mau tahu apa saja strateginya? 

1. Dimulai dari essentialisme, pilih untuk melakukan hal-hal yang paling besar manfaat dan dampaknya. 

Di era pandemi, salah satu dampak positif saat semua berubah menjadi serba online adalah muncul banyak sekali kesempatan untuk belajar. Banyak dibuka kelas online yang materinya menarik dan sangat dibutuhkan. Mulai dari yang gratis sampai yang berbayar. 

Sebagai ibu pembelajar, hal ini tentu rentan membuat kita kalap mata dan tergoda untuk meraup semuanya. 

Ada begitu banyak hal yang harus dilakukan dalam keseharian sebagai ibu. Apalagi jika kita termasuk ibu yang perfeksionis dan idealis, yang ingin semuanya berjalan dengan sempurna. Hal ini tentu saja membuat kita jadi memiliki begitu banyak hal yang harus dikerjakan. 

Maka disinilah dibutuhkan kemauan, keterampilan dan keberanian untuk hanya memilih hal-hal yang essesnsial saja untuk dilakukan. 

Kita perlu terus mengasah keterampilan untuk menentukan mana yang paling penting. Selain itu kita juga harus berani berkorban. Berani mengorbankan hal-hal menarik yang rasanya juga penting. 

Menentukan prioritas memang butuh keberanian untuk berkorban. 

Dengan fokus mengerjakan hal-hal essensial saja, semua tenggat waktu jadi mungkin untuk dituntaskan sambil tetap menjalani kehidupan yang seimbang. 

Karena pencapaian yang baik bukanlah tentang seberapa banyak yang dicapai. Tapi seberapa besar dampaknya bagi keseimbangan dan kebahagiaan hidup kita dan orang-orang yang kita sayangi. 

Mengejar berbagai pencapaian itu tidak salah, tapi perlu diingat juga, kita perlu hidup yang seimbang, bahagia sehingga kita bisa menikmati setiap kesempatan waktu dengan baik. 

2. Kejar keberkahan waktu. 

Waktu yang berkah adalah waktu yang terasa lapang dan berjalan pelan sehingga bisa dinikmati dengan baik. Hidup mengejar waktu itu akan sangat melelahkan, rasanya sudah berlari mati-matian tapi ternyata belum bisa meraih pencapaian optimal. 

Ini adalah salah satu rahasia keberkahan waktu yang dilakukan para ulama besar. Mereka juga hanya diberi jatah waktu 24 jam, tetapi mereka bisa mendalami dan menjadi ahli di beberapa bidang ilmu bahkan juga menghasilkan banyak karya-karya besar. 

Caranya adalah dengan sering membaca Qur’an, bangun sebelum subuh, dan perbanyak istigfar saat berkegiatan (ini yang saya tahu, yang lainnya mungkin lebih banyak lagi). Saya pernah menyimak ini di beberapa kajian, tetapi maaf saya tak hafal semua dalil maupun riwayatnya. Tapi dengan menerapkan teori ini, saya merasa waktu saya menjadi lebih lapang dan tidak serba terburu-buru. 

3. Berdamai dengan beberapa hal sambil tetap memprioritaskan keluarga. 

Jika memasak adalah hal yang menyita waktu dan tenaga, biasanya saya akan berdamai demgan mengandalkan layanan grabfood. 

Jika saat tenggat waktu mendekat cucian juga butuh dilakukan segera, biasanya saya akan berdamai dengan menggunakan jasa laundry.

Menurunkan standar terpaksa saya lakukan agar prioritas utama yaitu mengurus keluarga dengan baik tetap tercapai, sehingga tenggat waktu lainnya juga bisa tuntas dengan baik. 

4. Disiplin dengan manajemen waktu yang sudah dibuat. 

Manajemen waktu yang saya gunakan akan saya bagi di kesempatan yang lain. Dengan manajemen waktu, kita jadi lebih fokus dan juga memiliki waktu untuk istirahat. 

5. Buat to do list yang detil dan dipecah beberapa bagian. 

Ketika otak terasa penuh saya memulainya dengan membuat “to do list”, baik di buku jurnal atau pun di briefnote telepon pintar. Menuliskan to do list akan membuat beban otak berkurang sehingga otak bisa bekerja lebih efektif dan produktif. 

Dengan membuat to do list, kita bisa mengatur agar beberapa target tenggat waktu bisa dipecah menjadi lebih kecil dan bisa dicicil. Ketika target tenggat waktu sudah dicicil, kita jadi lebih tenang dan target lebih mudah untuk dikejar. 

Masalahnya ada kalanya saya juga terjatuh di titik ini. To do list sudah dibuat tapi tak terlaksana dengan baik. Hehe. 

6. Manajemen telepon pintar

Telepon pintar jika tak digunakan dengan pintar maka akan sangat rentan membuat kita penggunanya bodoh. Hehe. 

Manfaatkan fitur “digital wellbeing” yang biasanya tersedia di setiap telepon pintar. 

Atur fokus mode, agar kita bisa lebih fokus. Jika memang perlu membuka chat atau medsos, saya menyiasatinya dengan memasang timer. Jika timer berbunyi, berarti aktivitas di sana harus segera dihentikan. 

7. Refleksi dan apresiasi

Setiap kali berada di akhir minggu, saya biasanya (jika sedang mood. Hehe) akan membuat refleksi tentang seperti apa minggu itu berlalu. Apakah sudah baik, apakah kewalahan dan banyak target tak tercapai, kira-kira apa saja penyebab tak tercapai, apa saja yang perlu diperbaiki dan aneka pertanyaan reflektif lainnya. 

Jika sedang malas, saya hanya akan menulisnya dalam 1 kalimat saja. Maklum saya hanya manusia biasa yang ritmenya kadang berubah-ubah, yang penting sudah berefleksi. 

Selain melakukan refleksi, jangan lupa mengapresiasi diri. Apresiasi akan membuat otak bekerja dengan lebih baik. Tak perlu menunggu orang lain mengapresiasi diri, kita pun berhak mengapresiasi usaha yang telah kita lakukan. Agar selanjutnya kita lebih bersemangat mengejar dan melakukan berbagai target. 

Demikianlah beberapa hal yang saya lakukan agar bisa bermain Kungfu mengatur taktik agar berbagai tenggat waktu yang hadir dalam kehidupan saya bisa tuntas dengan baik. Berbagai tips diatas sebenarnya saya tulis untuk diri saya sendiri yang dalam perjalanannya seringkali lupa, khilaf dan lengah. Saya bagikan di sini siapa tahu juga bisa bermanfaat bagi orang lain. 

Terimakasih sudah membaca

#1000kata

#kumpulantulisanbundasyafiq

#seharisatutulisan

Bunga rampai kulzoom coaching lanjutan Rumah Inspirasi : Me time vs we time 

Kamis malam kemaren seperti biasa kami para peserta coaching lanjutan mengikuti kulzoom bersama mas Aar dan mba lala. Sebuah zoom meeting rutin yang dilakukan sekali dua minggu. 

Kulzoom kali ini asli super seru, biasanya seru tapi kali ini lebih seru. Mas aAar dan mba Lala membongkar habis rahasia di dapur keluarganya. Baru kali ini saya melihat mba Lala tertawa begitu habis habisan, saat bercerita tentang kisahnya. 

Acara diawali dengan sesi sharing dari beberapa peserta alias curhat dan mengadu(Hehe), kemudian dilanjutkan dengan mas Aar dan mba Lala yang bercerita. 

Sebagian besar yang diungkap mba Lala dan mas Aar di sana tak akan kami bawa keluar. Kami akan menyimpannya dengan baik untuk kami saja.

Sangat banyak insight yang kami dapatkan.  Pada dasarnya me time adalah kebutuhan setiap ibu yang kelelahan setelah menjalani perannya. Istilah me time memang baru populer di zaman sekarang. 

Di jaman ibu atau nenek kita, belum ada dikenal istilah me time bagi para ibu. Hal ini disebabkan oleh banyaknya anggapan di masyarakat bahwa ibu itu harus menerima kodratnya apa adanya, harus menelan apapun keluhannya. 

Tapi hal ini mungkin juga disebabkan jaman dulu belum ada medsos yang postingannya kadang mengintimidasi. Kehidupan saat itu belum terlalu banyak tuntutan,ataupun tekanan. Walau mungkin secara ekonomi keadaannya hampir mirip. 

Tetapi kondisi masyarakat saat itu yang masih guyub memiliki hubungan yang hangat tentu memberikan dukungan tersendiri bagi para ibu. 

Jaman now? Semua serba individualis, antar tetangga jangankan saling mendukung,bahkan tak jarang saling mengenal saja tidak. 

Lalu Bagaimana baiknya cara ibu memenuhi kebutuhannya akan me time? 

Lebih baik mana, apakah me time atau we time? 

Jawabannya, tak ada yang lebih baik. 

Berikut beberapa solusi ketika kita merasa butuh “me time” :

1. Lalui hari dengan melakukan setiap hal dengan mindful

Solusi yang paling bisa diambil para ibu adalah menjalani hari dengan mindful. Ketika kita melakukan setiap hal dengan hadir penuh kesadaran, menikmati setiap proses kegiatan sebagai suatu anugrah yang patut disyukuri, kita akan merasa lebih baik. Jauh merasa lebih baik. 

Kita akan merasa penuh. Misalkan, seharian kita sebagai ibu purna waktu, yang tak memiliki jeda melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Mulai dari bangun pagi sampai tidur lagi dimalam hari semua hal dilakukan sendiri tanpa henti. 

Tapi saat memandikan anak, kita bisa lakukan dengan mindful.  Lakukan Tanpa memikirkan hal lain. Mandikan anak sambil menatap matanya yang polos dan bening berbinar. Kita jadi bisa menikmati manisnya wajahnya, lucunya suara dan cerita yang tak berhenti keluar dari mulutnya. 

Saat menyiramkan air ke badannya kita lakukan dengan perlahan sambil menggosok sisa sabun yang ada di kulitnya. Merasakan betapa sehat dan kenyalnya kulitnya, anaknya begitu cerdas dan menggemaskan membuat hati merasa penuh. Betapa besar nikmat dan anugrah yang diberikan Pencipta pada kita. 

Apabila kita melakukan semua kegiatan seperti ini, kita akan merasa penuh dan tercukupi bahkan merasa hidup begitu penuh keberlimpahan. Jika sudah begini, tentu tekanan pada diri kita akan berkurang jauh. 

Begitu melakukan setiap hal dengan mindful, kita apapun akan merasa begitu penuh dan tercukupi. Merasa setiap hari penuh dengan kebahagiaan dan anugrah yang mengalir tanpa henti. 

Maka dengan demikian kebutuhan akan me time pun bisa terpenuhi dengan melakukan berbagai aktivitas we time dengan mindful. 

2. Kenali kebutuhan me time kita apa? 

Sebagai ibu,apalagi yang kesehariannya hanya mengurus rumah. Tentu beban fikirannya akan berbeda dengan ibu yang bekerja di ranah publik. Bekerja purna waktu sebagai ibu rumah tangga seperti tak memiliki jeda dari dunia pengasuhan yang berlangsung tanpa titik. Sebuah dunia yang tak ada habisnya. Mulai dari bangun tidur sampai tertidur lagi, apalagi yang masih memiliki bayi dan balita. Semua harus dilakukan tanpa henti. 

Berbeda jika masih ada kesempatan bekerja di luar rumah. Akan ada waktunya kita bisa makan siang dengan tenang tanpa di jeda oleh si anak tengah yang minta diceboki. 

Ibu yang bekerja diluar memang dan pasti juga melelahkan, tapi setidaknya masih ada jeda dan celah untuk sebentar keluar dari dunia rumah tangga yang tak ada habisnya. 

Me time sendiri perlu dilakukan berdasarkan kebutuhan kita. Apa yang kita butuhkan? Me time lah sesuai kebutuhan. 

Ada me time karena kebutuhan fisik. Obatnya tentu adalah tidur deep sleep atau sekedar tidur sejenak di siang hari bersama anak-anak yang dikunci di kamar. 

Salah satu tips emak rempong bisa tidur siang. Pastikan semua pintu terkunci, kompor mati dan semua aman. Siapkan kamar yang nyaman, kurung diri dan anak-anak di kamar. Sehingga sekalipun anak-anak tak bisa tidur siang, tapi jika kita ketiduran, mereka tetap aman. 

Atau bisa jadi kita butuh melakukan me time  sebagai kebutuhan mental. Melakukan hal-hal yang disukai. Ada yang suka membaca novel, atau ada yang suka ikut berbagai kelas keterampilan, menonton film atau sekedar minum secangkir capucino sendirian. Lakukan saja yang penting jadi bahagia. 

Ketika kita mengenali kebutuhan kita sebenarnya apa, me time pun akan jadi lebih tepat guna dan menghasilkan kesegaran di raga maupun fikiran. Sehingga kita siap untuk menghadapi berbagai kewajiban dan kegiatan di rumah tangga dengan kewarasan optimal. 

3. Lakukan me time dengan tanpa merasa bersalah

Sesekali kita merasa butuh melakukan hal-hal yang kita senangi. Tapi seringkali pada karakteristik kepribadian tertentu, ada yang malah merasa bersalah, merasa tidak produktif saat melakukan me time. 

Sebenarnya jika semua kewajiban utama di rumah seperti anak sudah makan, pakaian suami sudah disiapkan dan semua tugas sudah dilakukan dengan baik. Maka tak apa jika kita menonton film sebentar, atau membaca novel kesukaan. Melakukan hal yang disukai ini memang sekilas terlihat tak produktif. Tetapi jangan lupa, bukankah pribadi yang produktif adalah pribadi yang bahagia? 

Kita berhak untuk bahagia asalkan semua tugas sudah terlaksana dengan baik dan kegiata membahagiakan diri ini tak sampai menganggu atau mengurangi produktivitas. 

Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Melakukan hal membahagiakan itu justru malah akan meningkatkan produktifitas kita. 

4. Me time bukanlah pelarian saat kita kewalahan

Jika kata kuncinya adalah kewalahan, maka benahi dulu keseharian kita. 

Apakah kita sudah berusaha mengelola hari, hati, dan pikiran dengan baik? 

Di kelas Rumah Inspirasi, kami diajak menjurnal agar keseharian lebih terkelola. Di sebuah kelas home management saya juga belajar tentang hour power di pagi hari. Mempraktikkan kedua hal ini cukup. Membuat hati dan hari saya lebih terkelola. 

Menjurnal yang dimaksud bukanlah menulis jurnal dengan berbagai tampilan artistik seperti yang ada di pinterest. Menjurnal yang dimaksud disini adalah menuangkan apa yang ada di kepala ke dalam buku jurnal, agar kepala menajdi ringan dan lebih fokus menjalani hari. 

Di dalam jurnal saya setidaknya terdapat target mingguan dan prioritas apa saja yang harus dilakukan baik mingguan ataupun harian. Tapi setidaknya jika benar-benar tak sempat menjurnal, maka menuliskan to do list, jurnal syukur dan brain dump. Atau mind sweep saja akan membuat hati dan hari lebih terkelola. 

To do list berisi hal-hal apa saja yang akan kita lakukan. Jurnal syukur barisi hal-hal apa saja yang kita syukuri hari itu. Sedangkan brain dump berisi apapun ide yang lewat di kepala. 

Jika menjurnal sudah dilakukan, semua tugas telah terlaksana. Maka me time pun akan menjadi nikmat tanpa gangguan rasa bersalah. 

Sudah menjurnal, tapi masih merasa kewalahan? 

Rileks.. Santai.. Tarik nafas panjang.. 

Barangkali target kita terlalu banyak. Fokuslah menargetkan dan melakukan pada hal-hal essensial saja. Fokus pada hal-hal yang berdampak besar. Seringkali kita merasa perlu melakukan berbagai hal, padahal sebenarnya dengan melakukan sedikit hal yang berdampak, kita bisa memetik hasil lebih banyak. 

5. Jika memang butuh me time atau apapun, katakan saja pada suami. 

Wanita memang ingin dimengerti, tapi tanpa penjelasan lugas dan jelas yang disampaikan langsung, para pria tak akan pernah mengerti dengan sendirinya. 

(Maka lagu “karena wanita ingin dimengerti” Oleh Ada Band, butuh lagu balasan “tapi pria butuh kejelasan”.hehe) 

Ini yang disampaikan mas aar, untuk para istri, sampaikan saja apa adanya pada suami. Pada dasarnya setiap suami tentu ingin istrinya nyaman dan bahagia. 

Jadi berhenti main drama dengan kiasan atau kode-kodean. Cukup katakan dengan jelas, apa kebutuhan kita pada suami. Suami hanya butuh alasan dan penjelasan yang masuk akal. 

Apakah butuh tidur siang sebentar di hari minggu yang banyak setrikaan. Atau butuh mesin cuci baru, bahkan jika butuh ART sekalipun, cukup ungkapkan apa adanya. Ini akan lebih solutif baik untuk kehidupan rumah tangga maupun proses pengasuhan anak. 

Jikapun suami tak bisa memenuhi karena berbagai hal, tentu akan dicarikan berbagai solusi yang akan meringankan beban kita. 

Demikianlah bunga rampai penjelasan dari mas aar dan mba lala tentang apakah seorang ibu butuh me time atau we time. 

Tertarik untuk belajar parenting dan pendidikan di rumah inspirasi, bisa lihat lihat di link ini :

https://rumahinspirasi.com/

jika ingin dapat potongan harga, silahkan masukkan kode kupon ini

kode kupon untuk potongan harga 50k di berbagai kelas Rumah Inspirasi

Olahraga Pilihanku dalam Keseharian : Aktivitas Fisik Bersama Anak-anak

Dalam keseharian saya sebagai ibu, olahraga adalah benar-benar kata yang sangat membebani saya saat mendengarnya. Kekuatan hati untuk mampu mengeksekusinya sungguh butuh motivasi besar dan kuat, seringkali juga harus dikuat-kuatkan dengan mencari berbagai inspirasi dari beberapa selebgram (latah jadi emak jaman now, apa-apa lihat vlogger atau selebgram). Sulitnya mencari waktu untuk melakukannya tanpa diganggu anak yang masih kecil, selama ini menjadi penghalang saya (heleh, alasan!). 

Entah itu kenyataan atau pencitraan, melihat para selebgram berolahraga sambil mengasuh atau bermain dengan anak-anaknya yang masih balita, cukup memotivasi bagi saya. Bayangkan, si selebgram itu tampilannya tetap sekece Nia Ramadani, walau punya anak 8, semuanya homeschooling, yang notabene rumahnya tanpa ART( kalau diluar negeri biasanya jarang pakai ART). Kalau dia bisa (abaikan kemungkinan pencitraannya) berarti saya juga bisa. 

Tapi tentu hasilnya sudah bisa ditebak, berhasil sih, tapi ala mini habit dan minimalis sekali. Cukuplah untuk sekedar memenuhi syarat sudah tercentang ceklist olahraganya. 

Kebetulan bulan lalu saat mengikuti event 7 hari audit diri bersama mba Lala (Rumah Inspirasi). Salah satu kebiasaan baik yang ingin saya audit adalah membuat kebiasaan olahraga rutin setiap pagi. Durasi maksimalnya 15 menit dan minimalnya 1 menit. Hasil akhirnya? Haha. Jawaban Anda benarr. Olahraga adalah satu-satunya aksi kebiasaan baik yang paling sering saya lakukan dengan durasi minimal, iya, hanya 1 menit setiap hari. 

1 menit olahraga itu ngapain aja?? 

Idealnya, niatnya sih ingin sekali meluangkan waktu 15 menit sekedar untuk ber-yoga ringan atau sepedaan sebentar di sekitar gang. Kenyataan ya, sudah ketebak, saya merasa tak punya waktu (baca: sering terdistraksi oleh berbagai hal). 

Jadi, Untuk mencapai target minimal 1 menit berolahraga, saya menyatukan kegiatan saya bersama anak-anak. Judul kegiatannya mindful activity bersama anak-anak, tapi dipastikan kegiatannya membuat saya bergerak setidaknya 1 menit. 

Kegiatannya bisa dengan “main kaja en” bersama anak-anak alias main kejar-kejaran. Atau bisa juga sekedar lomba lari di depan rumah bersama anak-anak sambil kena matahari pagi. Biasanya, pada akhirnya durasinya akan lebih dari 1 menit.Anak-anak sering meminta untuk melakukannya lebih lama. Saat selesai melakukannya kami pun bahagia dan berkeringat. 

Sedikit penjelasan, saya ibu 3 anak homeschooling (yang merantau dan tanpa ART), jadi hampir semua kegiatan saya sepaket dengan kegiatan anak-anak yang dua diantaranya masih balita dan si sulung juga masih belum mandiri. 

Mindful activity yang diselipkan kegiatan fisik seperti ini sangat mempengaruhi mood dan kewarasan saya menjalani keseharian bersama anak-anak. Ketika keringat mengalir dan tubuh bergerak, racun dari tubuh keluar dan aliran oksigen darah lancar sehingga sepanjang hari semangat bisa lebih terjaga. Membiasakan mindful activity dengan aktifitas fisik juga membuat anak-anak terutama yang sudah usia sekolah bisa belajar dengan konsentrasi yang lebih baik. Jadi, bonding dan kekompakan dengan anak terjaga, ceklist kebiasaan baik berolahraga pun tercentang (walaupun minimalis durasinya. Hehe) 

Sebagai penghibur hati, saya mengatakan pada diri sendiri. Sebenarnya ingin memilih olahraga yang sesuai keinginan, entah berenang, ikut berkuda atau memanah. Tapi sekarang saya masih berada pada fase “just enjoy the season”. Anak-anak masih kecil-kecil, kami merantau tanpa ART, tanpa pengasuh, tanpa keluarga dekat,jadi benar-benar tak punya tempat untuk menitipkan anak barang 15 menit sekalipun. 

Agar saya bisa lebih waras dan tidak kusut menjalani hari bersama anak-anak. Mari nikmati saja dulu, “me time” saya untuk berolahraga kami jadikan “we time” untuk sekedar melakukan mindful activity dengan sedikit aktivitas fisik. 

Yang penting tetap bergerak, dan selalu bahagia bersama anak-anak! 

Salam emak rempong! 

Balikpapan, September 2021

Mari sadari lagi, kita berada di sini untuk apa?

Sekedar selamat tak akan menjamin kita selaras dengan kehendak Allah dan tenang di akhirat. Tapi selaras dengan kehendak Allah akan menjamin kita selamat dunia dan akhirat

elsa mur

Kehidupan dunia hari ini begitu berisik dan membebani hati. Limpahan informasi yang menyerbu setiap waktu dari segala penjuru mendatangkan kebingungan dan tak jarang menjadikan nurani mudah ragu, insting tak lagi tajam dan feeling pun menumpul. 

Perasaan terancam membuat sebagian manusia lebih reaktif dan mudah menerima pilihan apa saja yang dirasa bisa memberi keselamatan. Ada yang diputuskan untuk dipilih setelah berpikir panjang, ada juga yang dilakukan segera tanpa pertimbangan sampai matang. Ada yang mengambilnya sambil putus asa. Ada yang memilihnya karena dipaksa dan tak ada pilihan lain. 

Ada juga sebagian yang percaya  begitu saja karena memang begitu menurut arus utama. 

Ketakutan dan rasa waswas begitu pekat terasa saat ini. Sebelum hati kita ikut larut bahkan bertambah kalut. 

Mari tenangkan diri. Kita perlu menepi sebentar dari hingar bingar informasi yang membingungkan ini. 

Camkan lagi di hati,bahwa apapun yang terjadinya, yang utama bukanlah keselamatan kita. 

Sebagai hamba Allah, yang utama adalah kita kembali kepada Allah pada keadaan tauhid yang lurus, dengan jiwa dan raga yang suci dari hal-hal yang diharamkan  Allah. 

Perlu kita sadari dan pahami dengan mendalam, bahwa semua yang diharamkan Allah, adalah sesuatu yang memang tidak baik untuk kita. Peraturan tentang halal-haram adalah salah satu wujud kasih sayang Allah SWTSWT pada kita, hamba-hambanya. 

Jadi, jangan sampai kita hanya fokus pada selamat. 

Bukan asal selamat tapi tak sesuai dengan persyaratan aqidah yang lurus. 

Karena sejatinya, keberadaan kita disini hanyalah untuk beribadah dengan hati, jiwa dan raga yang lurus dan suci. 

Lurus dari perbuatan syirik baik besar maupun kecil. 

Suci dari hal-hal yang diharamkan dan dilarang Allah SWT. 

Bukankah Allah jelas-jelas telah berfirman bahwa Allah hanya menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya? 

Buat apa selamat, tapi aqidah kita tergadai, tubuh tak lagi Suci, amal ibadah tak diterima? 

Memang sungguh berat hidup di zaman ini. 

Sebuah zaman yang segalanya terlihat benar, semua dibolak balik membuat bingung. 

Diantara begitu banyak pilihan untuk selamat, jangan lupa, tetaplah memilih pilihan yang tetap membuat aqidah kita lurus dan jiwa raga kita suci. 

Lurus hanya bergantung kepada Allah, suci dari hal-hal yang membuat kita jauh dari Allah. 

Sehingga kewajiban kita kepada Allah tetap tertunaikan dengan baik. Dan tak ada penghalang antara kita dengan Rasulullah di akhirat kelak. 

Menjalani kehidupan di akhir zaman seperti sekarang, sungguh menuntut kita agar selalu bertazkiyatun nafsu, agar mudah mendapat bashiroh dari Allah. 

Bashiroh berupa ilmu berisi cahaya petunjuk pada jalan yang benar, hanya bisa masuk ke dalam qolbu yang kacanya bersih dan bening. 

Segala maksiat baik kecil maupun besar yang kita lakukan, akan mengotori kaca kalbu ini. Semakin banyak dosa dan maksiat maka semakin kotor dan susahlah cahaya untuk masuk ke dalam qolbu seseorang. Ini adalah salah satu hikmah kenapa Allah melarang kita bermaksiat. Karena maksiat dan dosa akan merenggangkan penjagaan Allah berupa petunjuk pada kita. 

Solusinya, mari kita jalani kehidupan akhir zaman ini dengan cara yang Allah pilihkan bagi kita : jaga tauhid tetap lurus dan jiwa raga terjaga dari hal yang diharamkan. 

Luruskan tekad, bahwa yang kita kejar adalah keselarasan dengan kehendak Allah atas diri kita. Bukan sekedar keselamatan. Sekedar selamat tak akan menjamin kita selaras dengan kehendak Allah dan tenang di akhirat. 

Tetapi selaras dengan keinginan Allah, akan bisa dipastikan kita selamat baik di dunia maupun akhirat. 

Catatan perjalanan ke derawan (day 1)

Terus bergerak dan menjejak,

Hari pertama perjalanan kami dimulai tanggal 4 juli 2021. Kami berangkat dari rumah jam 9 pagi, dengan target perjalanan bisa mencapai kota Sangatta sebelum magrib dan menginap disana menunggu pagi untuk melanjutkan perjalanan ke Berau.

Perjalanan yang harus ditempuh untuk mencapai pulau Derawan meliputi kota Sangata-muara wahau-berau lalu jalan daratnya berakhir di tanjung batu. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan speedboat.

Pagi itu awalnya hujan, Alhamdulillah saat kami sudah di jalan, hujan mulai reda. Kami sangat bersuka cita dengan momen bepergian bersama bagi kami momen travelling atau roadtrip adalah moment kami bisa melatih anak-anak untuk bisa bertanggung jawab, bekerja sama, belajar menikmati dan berdamai dengan kondisi apapun yang sedang kami hadapi.

Pembagian tanggung jawab baru kami lakukan dengan anak yang berusia 7 tahun, sedangkan yang lebih kecil, mereka mendapatkan tugas juga tapi sesuai kemampuannya, tapi tidak ada penekanan agar diselesaikan.

Adapun tanggung jawabnya yaitu smh1 bertanggung jawab atas semua peralatan dokumentasi, mulai dari tongsis, kamera, charger dan lainnya.
Sedangkan untuk smh2 ia mendapat tugas membawa bantal dan selimut yang diperlukan ke mobil. Smh3 yang sifatnya juga tak mau kalah, walau baru saja sembuh dari demam, ia langsung bersemangat saat akan berangkat.

Perjalanan kami berlangsung seru, selain keluarga inti, ada metek smh dan uwo nino juga ikut serta dalam perjalanan kami.

Saat sampai di sangata jam 5 sore, metek (paman) smh penasaran untuk tetap melanjutkan perjalanan.

Akhirnya perjalanan pun berlanjut, berbeda dengan rencana awal yang harusnya menginap dulu di sanggatal. Jalur pesawangan Sangatta-Berau ternyata sesuai dengan yang diceritakan para vlogger. Jalannya hampir sebagian besar bagus( banyak juga lubang), tetapi sepi, hanya ada hamparan semak, sesekali ada pohon besar atau kebun sawit.

Kami melewatinya saat jam 12 malam. Jangan ditanya spookynya seperti apa. Apalagi di depan dan di belakang kami tak ada mobil lain, tak ada lampu jalan. Hanya langit penuh bintang yang malam itu terlihat sangat cantik yang menghibur hati kami.
Disertai dzikir tanpa putus.

Pemandangan langit malam itu sungguh indah. Langit dengan taburan bintang terlihat dengan jelas. Sebuah pemandangan yang tak mudah dilakukan di jaman sekarang. Kondisi minim penerangan di sepanjang jalan muaro wahau membuat sama sekali tak ada polusi cahaya, langit berbintangnya jadi terlihat luar biasa indah.

Jalan yang berkelok-kelok mulai membuat muntah smh1, tak bisa ditahannya lagi. Tak biasanya ia muntah, tapi Alhamdulillah ia tetap bisa menyelesaikan perjalanan hari itu dengan baik.

Sedangkan saya sendiri, yang duduk di baris ketiga mobil, Alhamdulillah tak ada merasa mual karena sedang mencoba mempraktikkan tips anti mual.

Tipsnya adalah, saat kita sedang menjadi penumpang, pastikan tubuh rileks dan pasrah mengikuti gerakan mobil. Dengan demikian, perut kita tak akan mengalami goncangan atau teraduk terlalu keras yang rentan membuat mual bahkan muntah.

Akhirnya jam 3 malam, kami sampai di hotel derawan indah. Begitu sampai, semuanya pun langsung tertidur kelelahan. Sambil memunggu waktu siang datang untuk melanjutkan perjalanan.