Romantisme di Zaman Pak Pos Masih Sibuk Mengantarkan Surat-Surat

Membaca kata pak pos atau tukang pos membuat saya teringat cerpen karya SGA alias Seno Gumilang. Dimana disana diceritakan butuh waktu 10 tahun bagi sang tukang pos untuk mengantarkan surat dari Sukab kepada kekasihnya Aruna. 

Tapi saya tidak akan membahas romantisme kisah surat Sukab pada Aruna. Saya akan menulis betapa romantisnya masa ketika pak pos masih sibuk mengantarkan surat ke berbagai alamat, walau saat itu belum ada gmap atau GPS. Jarang sekali kejadian salah alamat 

Beberapa hari yang lalu saya terdiam cukup lama saat anak bertanya apa itu perangko, seperti apa bentuknya, apa itu surat, seperti apa rasanya menunggu balasan dan lain sebagainya. Hari itu kami sedang membaca buku ensiklopedia anak, salah satunya bagian bukunya membahas tentang segala aktivitas yang terjadi di kantor pos. 

Saya berusaha menjelaskan sambil terkenang dan bernostalgia pada indah dan romantisnya masa itu. Masa surat menyurat, dimana setiap kali selesai mengirim sebuah surat selalu tak sabar menunggu pak pos datang membawa balasannya. 

Ada beberapa hal-hal nostalgia yang tersimpan dalam ingatan saya tentang pak pos dan segala romantika di jaman itu. 

Jaman itu adalah ketika pesan yang berisi kabar, cinta, dan rindu berjalan begitu pelan pada penerimanya. Kala itu, hal tersebut terasa begitu wajar dan kita terbiasa menerima apa adanya semua kondisi yang mengharuskan kita menunggu itu. Kadang saat balasan tiba, tak jarang sang penerima sudah lupa sebelumnya telah menulis apa di suratnya. 

Tak jarang pula isi suratnya terlalu formal, normatif dan sangat taat kaidah tata cara penulisan surat dan bahasa. Sekalipun itu surat dari anak kepada orang tuanya bahkan surat dari sahabat dekat yang sudah berada jauh pun semua serba taat pada aturan penulisan surat. 

Romantika saat mendengar suara khas motor pak pos mendekat, berharap ada surat yang ditujukan untuk kita diantara s urat-surat yang dibawanya. 

Romantisme saat mencium aroma kertas yang baru dikeluarkan dari amplopnya. Buncahan rasanya seperti menunggu roti buatan sendiri  keluar dari oven dengan kondisi sempurna. Hangat, begitu membahagiakan tak sabar ingin segera dibaca. 

Romantisme saat membaca kata demi kata dan mengamati tulisan tangan yang pasti ditulis sepenuh hati dan entah telah mengorbankan berapa lembar kertas karena tulisan atau pesannya dirasa kurang pas. Membuat rasa rindu sedikit terobati. 

Romantisme saat menulis surat. Mulai dari memilih kertas yang akan digunakan, mengawali surat dengan “yang terhormat, yang tersayang”. Menulis paragraf demi paragraf berisi berbagai kabar. Bahkan tak jarang isi suratnya sangat singkat dan padat, tapi rasa yang dibawanya membuat hati membuncah. 

Pengalaman ini saya dapatkan saat membaca surat-surat milik paman saya yang berasal dari sahabat, sahabat penanya, pacarnya, dan “gebetan”nya. Kebetulan saat saya kecil, ketika paman belum berkeluarga, beliau  tinggal bersama kami di Padang. 

Ketika paman sudah berkeluarga dan pindah ke kota lain, bundelan surat-suratnya menumpuk banyak sekali. Saya yang waktu itu masih SMP penasaran dan membacanya satu per satu. 

Dengan membacanya, saya jadi paham seperti apa gambaran masa muda paman yang usianya 20 tahun di atas saya. 

Dari surat-surat itu saya pun belajar merapikan dan memperbaiki tulisan tangan saya dengan meniru salah tulisan di salah satu surat, yang menurut saya tulisannya sangat cantik. 

Ya, tulisan yang ada pada sebuah surat juga merupakan romantisme tersendiri. Bagi saya saat membaca tulisan tangan seseorang, ada banyak hal yang bisa kita amati. Sebuah hal yang tak lagi lazim kita lakukan di jaman ini. Bahkan tak jarang anak-anak jaman sekarang menganggap memiliki tulisan tangan yang rapi tak lagi dibutuhkan karena semua sudah serba tuntas dengan telepon pintar. 

Romantisme dalam proses mengirim dan menunggu surat balasannya pun juga merupakan kebahagiaan tersendiri. Saat menulis surat, rasanya begitu bahagia ketika berhasil menulis lalu mengirimkannya. Saat amplop surat telah di lem dengan rapat, perangko telah ditempel, kemudian surat masuk ke kotak pos. Hati lega, tapi juga tak sabar menunggu balasannya segera datang. 

Walau pada kenyataanya tak jarang balasannya datang sebulan atau bahkan berbulan-bulan setelah itu.

Beberapa romantisme lain di jaman itu :

TELEGRAM

 Jauh sebelum adanya HP bahkan wartel (warungbtelepon), orang jaman dulu biasa memberi kabar darurat menggunakan TELEGRAM. Kata-kata Teteka habees dan lain sebagainya. Saya ingat dulu jika ada TELEGRAM yang datang (saat itu saya belum bisa membaca dan belum sekolah), mama akan memberitahu saya berita yang dibawa TELEGRAM tersebut. 

Biasanya berita darurat dan kabar buruk, tapi kadang ada juga berita bahagia. Misal kabar bahwa bibi saya baru saja melahirkan, Atuk (kakek) saya di Payakumbuh masuk rumah sakit, ada saudara meninggal dan lain sebagainya. 

Yang saya ingat tentang TELEGRAM, pesan yang ada didalamnya harus disampaikan dengan jumlah huruf sesedikit mungkin karena biayanya berdasarkan pada jumlah hurufnya. 

Perangko 

Jaman itu, saya pernah juga membuat album filateli. Mama mengajak saya rutin berkirin surat dengan Atuk, Etek, Metek dan keluarga kami lainnya yang berada di kota lain. Filateli membuat saya semangat menulis surat dengan tujuan utama agar bisa mengumpulkan lebih banyak perangko. Walau sekarang kepikiran, kenapa tidak perangkonya saja yang dibeli lalu ditempel di albumnya? Hehe. Tentu saja jadi tak ada romantisme jika demikian. 

Romantisme filateli bagi saya adalah saat kita berhasil melepaskan perangko tanpa menyisakan kerusakan berarti di amplopnya. Saat kita berhasil mengumpulkan koleksi lengkap dari sebuah seri perangko dari hasil menulis dan menerima balasan surat. 

Wessel

Jaman dulu, masih langka sekali transfer antar bank. Jika mama ingin mengirim uang untuk Atuk, kami akan pergi ke kantor pos dan menyerahkan uang tunai untuk dikirim via pos. Cara ini disebut wesel. Saya belum terlalu ingat detilnya bagaimana mengirim wesel. Seingatku saya, saat kita menerima wesel, pas pos akan mengantarkan lembar pemberitahuannya ke rumah, kemudian kita perlu datang ke kantor pos untuk mencairkan uangnya. 

Sungguh proses yang panjang jika dibandingkan dengan kecepatan proses transfer uang di jaman sekarang. Mungkin itu juga penyebabnya orang jaman dulu bisa hidup lebih mindful dan sabar karena terbiasa menunggu. 

Kartu lebaran

Saya masih ingat dulu kegiatan rutin Mama menjelang lebaran, selain sibuk memasak kue dan membersihkan rumah, adalah mengirimkan kartu selamat iedul fitri. 

Kartu berbagai bentuk bahkan ada yang model pop up juga, mengantri di meja untuk ditulis pesannya kemudian dikirimkan. Tak lama setelah itu, pak pos pun datang berkali-kali mengantarkan kartu Lebaran untuk orang-orang di rumah kami. 

Saat hari lebaran, semua kartu dipajang di meja pajang ruang tamu. Semua kartu pop up pun memamerkan keindahannya. Sungguh kebahagiaan yang sederhana jika dikenang saat ini. 

Kartu pos

 Jaman dulu belum ada instagram , untuk mengetahui seperti apa daerah lain hanya bisa dilihat lewat media TV yang salurannya hanya ada TVRI, atau lewat media cetak dan majalah. Tak seperti jaman sekarang, dimana jika kita sedang berpergian,  orang lain bisa melihat apa yang kita lihat lewat instastory atau WA pop. 

Dulu orang-orang memberitakan perjalanannya pada orang rumah dengan mengirim kartu pos yang di belakangnya ada foto keindahan di kota tempatnya berada. 

Jika jaman sekarang para fans bisa mengakses akun instagram idolanya dengan begitu mudah. Dulu, saat saya masih mengidolakan enno Lerian dan chikita meidy, bisa mengirim surat pada idola, dan mendapatkan balasan berupa selembar kartu pos berisi kalimat pendek. Rasanya sudah bahagia sekali. Setelah itu kartu posnya disimpan sebaik-baiknya agar tak lecet dan rusak, karena rasanya begitu berharga. Hehe. 

Dunia memang telah berubah dan berkembang semakin maju. Tapi romantisme jaman dulu akan selalu melekat di hati dan kenangan orang-orang yang pernah berada di masa itu. Sekalipun semua sekarang sudah serba instan dan serba sampai sekejap mata. Semoga kita selalu ingat untuk menjeda. Ketika suatu pesan sampai dengan jeda, ada rasa rindu yang tercipta saat menunggu perjalanannya. 

Penulis: Elsa mur

Hai, saya elsa, Bundo dari tiga orang anak disingkat 3 smh. Saya berasal dari Minangkabau, Seorang Nutrisionist yang sehari-hari menjadi ibu rumah tangga purna waktu, Homeschooler dan seorang nomadic wife yang selalu bersemangat mendampingi dan mengikuti suami menjejak di berbagai kota.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s